.CO.ID - JAKARTA. Beberapa perusahaan pengembang real estat tetap percaya terhadap performa sektor ini, walaupun Bank Indonesia memutuskan untuk menjaga tingkat suku bunganya di posisi 5,75% saat rapat dewan gubernurnya bulan April tahun 2025.
Ini berarti bahwa Bank Indonesia tetap menjaga tingkat BI-rate pada angka 5,75% untuk periode tiga bulan berturut-turut. Setelah Januari 2025, mereka mengurangi suku bunganya sebesar 25 point basis atau dari 6% menjadi 5,75%.
PT Metropolitan Land Tbk (MTLA) mengaku optimistis kinerja industri properti masih akan baik-baik saja di tahun 2025.
Menurut Direktur PT Metropolitan Land Tbk Olivia Surodjo, tingkat suku bunga yang ditetapkan oleh Bank Indonesia tetap terbilang menguntungkan. Dia menyebut bahwa pinjaman pemilikan rumah (KPR) dari bank-bank utama saat ini memberikan penawaran dengan tingkat bunga di angka satuan digit saja.
Selain itu, pemerintah terus mengimplementasikan program PPN DTP dalam transaksi perumahan. Karena alasan tersebut, MTLA masih bertujuan untuk mencapai pertumbuhan meskipun dengan sasarannya yang relatif berhati-hati.
"Walaupun begitu, MTLA masih waspada terhadap perlambatan ekonomi karena kebijakan tariff balasan yang diimplementasikan oleh Amerika Serikat (AS), hal ini dapat mempengaruhi sektor bisnis properti," katanya saat memberitahu , Senin (24/4).
Saat ini, PT Ciputra Development Tbk (CTRA) menyatakan tidak terlalu cemas tentang keputusan tingkat suku bunga oleh Bank Indonesia (BI).
Direktur CTRA Harun Hajadi menyatakan bahwa apabila tingkat suku bunga dikekang, efeknya pada performa perusahaan serta sektor real estat secara umum telah menjadi cukup terbatas. Hal ini disebabkan oleh adanya faktor-faktor lain yang jauh lebih signifikan untuk diamati dalam konteks pemberlakukan pembatasan suku bunga tersebut, yakni perkembangan ekonomi nyata atau substantif.
“Suasana stabilitas ekonomi, pengeluaran pemerintah, dan stabilitas nilai tukar rupiah harus bisa dirasakan. Sebab, rumah itu big ticket items, sehingga pengeluarannya (konsumen) lebih hati-hati,” ujarnya kepada , Rabu (23/4).
Harun menyebut bahwa timnya tetap akan memantau dinamika ekonomi dalam negeri serta internasional sampai paruh kedua tahun 2025. Ia menambahkan, karena pemerintah Indonesia sekarang bisa dibilang masih segar dan sedang merumuskan struktur idealnya, maka tak jarang koordinasinya belum sepenuhnya mulus.
"Nantinya kita akan tinjau. Kita tetap menjalankan bisnis seperti biasa, pembangunan terus berlanjut, dan pencarian untuk proyek-proyek baru juga masih dilanjuti," ucapnya.
Sebaliknya, PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) menilai bahwa tingkat suku bunga untuk kredit pemilikan rumah (KPR) masih cukup tinggi pada masa sekarang. Meskipun demikian, perusahaan tetap yakin terhadap prospek industri properti yang akan berkembang positif di paruh kedua tahun 2025.
“Kami melihat permintaan properti di segmen menengah ke atas masih akan cukup baik. Kami yakin calon pembeli akan memanfaatkan alternatif pembayaran melalui KPR yang ditawarkan oleh bank, yang relatif kompetitif,” kata Direktur PT Summarecon Agung Tbk Lydia Tijo, kepada , Rabu (23/4).
Ke depan, SMRA tetap melakukan launching produk-produk baru dan juga menawarkan produk dalam stock inventory.
"Terutama, mereka yang memenuhi syarat untuk program insentif PPN DTP dari pemerintahan yang diimplementasikan tahun ini," katanya.
Komentar
Posting Komentar