) Gelombang I 2025.
Kota Semarang. Suksesnya memasuki SIPSS menjadi bukti bahwa Polri meneguhkan pluralisme dalam rekrutmen anggota.
Sebelum menjadi siswa SIPSS, Afat adalah Guru Agama Konghucu di SMP Negeri 1 Bunguran Timur, Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau. Ia juga aktif sebagai penyuluh agama non-PNS serta penulis di kanal Pusat Bimbingan Pendidikan Konghucu Kementerian Agama Republik Indonesia.
Hanya dalam 6 semester, lebih cepat dari biasanya, karena kebutuhan mendesak akan guru agama Konghucu yang sesuai dengan pendidikannya. Ia menjadi lulusan pertama STIKIN bersama 25 rekan lainnya.
Ketika Afat mengetahui tentang penerimaan anggota Polri melalui SIPSS 2025, ia melihat kesempatan itu sebagai kecocokan dengan jurusannya. Ia kemudian mendaftar dan mengikuti proses seleksi yang dimulai pada November 2024 di Pusat Misi Internasional Tangerang, hingga akhirnya dinyatakan lulus pada tingkat pusat.
Di tengah mayoritas siswa SIPSS yang beragama Islam, Afat tetap menjalankan ibadahnya sebagai penganut Konghucu. Meski tidak memiliki tempat sembahyang khusus di lingkungan pendidikan, ia tetap berdoa dan membaca Kitab Sishu, kitab suci agama Konghucu, sebagai bentuk refleksi diri.
"Pengasuh di sini memberikan saya kebebasan untuk beribadah sesuai dengan kepercayaan saya," ujar Afat di Batalyon SIPSS, Jumat (7/3/2024) malam.
Afat mengaku nyaman dan tidak mengalami kendala dalam menjalankan keyakinannya selama belajarnya di SIPSS. Ia melihat bahwa Polri menjunjung tinggi keberagaman dan memberikan kesempatan yang sama bagi semua pemeluk agama.
Inginan Afat untuk menjadi bagian dari Polri dipicu oleh keinginannya untuk berdinas bagi masyarakat lebih luas, bukan hanya dalam lingkungan pendidikan agama Konghucu. Ia juga terinspirasi oleh rekannya, Michael Josua, yang lebih dulu diterima di Akpol dan kini telah bertugas, serta Dokter David, seorang penganut Konghucu yang bertugas di Brimob Polda Papua.
Kesuksesan Afat menembus SIPSS menjadi bukti bahwa Polri membuka kesempatan bagi siapa saja, tanpa memandang latar belakang agama, untuk bergabung, dan mengabdi kepada masyarakat dengan semangat profesionalisme, humanisme, dan kebhinekaan.
"Aku melihat Polri ini mengutamakan pluralitas dan melayani masyarakat. Ini sesuai dengan ajaran Konghucu, memiliki semangat yang suka berbagi," kata Afat.
Komentar
Posting Komentar